Forum Diskusi

Rasa Tidak Punya di Hadapan Allah


Cak Nun menjadi sosok panutan sebagai santri modern dengan pemikiran membeset. Ia berani menghantam apa yang dianggapnya tak benar, kendati itu opini umum. Senjatanya ilmu memadamkan, yang tiga kali lebih dahsyat dari ilmu membakar. Betapa pun, ia tipe perenung, pemburu abstraksi di balik realitas. Mencari kyai gondrong berjeans ini gampang-gampang susah. Yang mesti diladeninya berjibun, dari kota ke kota. Tapi dengan kepintarannya mengelola jadwal, wawancara berlangsung juga. Setelah mengantar teman mainnya ketika kecil, Markeso, ke terminal bis dengan sedan tuanya berwarna putih, kami berempat (Cak Nun,
“sekretarisnya” Imam, Julie Erikania dan Widya Saraswati) menuju Jokteng Kulon, ketempat lesehan murah di mana para seniman Yogya biasa ngumpul. Ini memang jalan keluar terbaik, karena rumah penyair ini selalu penuh dengan anak muda dan tidak memungkinkan untuk wawancara. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Udara Yogya yang dingin terus enak bercampur teh gula batu manis kental. Emha menggemari adonan ini, bau got di depan kami seperti hilang begitu saja, larut bersama angin.
https://www.blogger.com
Apa sebenarnya yang Anda cari?
Mencari....apa yang saya cari. Tiap hari bisa berubah. Berubah artinya berkembang. Mungkin hari ini saya....oh ternyata saya mencari pohon. Pantas saya kok bersikeras masuk hutan, ternyata cara mencari pohon. Tahun depan mungkin....ah, ternyata bukan pohonnya. Yang saya cari itu daunnya. Pantas saya begitu ini sama warna hijau sejak dulu. Tahun depannya lagi, aduh......, ternyata bukan daunnya yang saya cari. Yang saya cari adalah warna hijau, zatnya. Tahun depannya lagi ternyata bukan zatnya, yang saya cari adalah satu gerak rahasia yang membikin unsur-unsur dalam tanah itu bisa menjadi kehijauan yang indah seperti itu. Jadi ternyata yang saya cari bukan pohonnya, bukan daunnya, tetapi sesuatu yang abstrak yang tidak kelihatan, yang bisa memungkinkan pertumbuhan itu. Misalnya begitu. Jadi saya selalu mencari apa yang saya cari.
Dan menemukan setiap kali mencari?
Oh, kalau sudah menemukan itu namanya ma’rifatullah. Itu namanya sudah sampai di surga. Tidak asyik lagi kalau sudah menemukan. Itu pasti saya akan salah sangka lagi, salah sangka lagi. Tapi itu mudah-mudahan merupakan terminal ilmu yang meningkat. Ini tadi metaforik, kalau saya ngomong hutan. Demikian juga kalau saya ketemu masyarakat, saya mesti ikut seminar arsitektur, itu semua adalah apa yang saya sebut pohon, daun dan seterusnya. Nah, itu yang primer. Yang lain-lain sekunder, kok.
Apa itu yang sekunder?
Ya misalnya, apakah saya punya rumah atau tidak, apakah saya terkenal atau tidak, apakah saya jadi pejabat atau tidak, apakah saya punya karier atau tidak. Itu semua menjadi sekunder. Apakah saya bisa menjadi seniman besar atau tidak, itu menjadi sekunder. Bukan tidak penting, tapi sekunder. Karena itu saya tidak pernah mengurus karier saya. Kalau saya urus itu, saya sudah di Jakarta. Di sana tata sistem telah mempersiapkan ruang untuk saya sejak 15 tahun yang lalu. Tapi saya tidak memanfaatkan. Karena bagi saya yang primer adalah mencari ilmu, mencari pengetahuan sejati. Tapi apakah saya kaya atau miskin menjadi nomor dua.
Pernah merasakan jenuh atau bosan dalam mencari?
Ya, dong! Jenuh, mangkel, marah, jengkel, putus asa, frustasi, bisa saja, toh. Itu semua makhluk-makhluk sekunder. Orang harus ... karena dia manusia, karena dia punya status dan realitas yang dijatahkan Tuhan sedemikian rupa, karena dia manusia, maka dia lebih besar dari unsur-unsur yang dia alami. Orang silakan bersedih, karena itu manusia. Tapi orang itu hakekatnya dan keharusannya lebih besar dari kesedihannya. Jadi kesedihan itu .....oh, saya sedih. Saya bahagia...oh saya bahagia ini. Saya mangkel sama orang, saya marah besar karena suatu proses. Tapi saya bilang, saya sangat marah. Hati saya lho, tapi. Jadi, karena saya toleran sama hati saya, tapi juga toleran sama Anda, saya berdiri di tengah-tengah. Saya juga harus menghormati hati Anda tapi harus menghormati Anda juga. Jadi hati saya tidak menguasai saya lantas saya marah, cemberut, atau apa. Tidak! Saya bilang, hati saya lagi marah. Jadi anda harus menunggu beberapa jam sampai dia sembuh, syukur Anda membantu menyembuhkannya. Saya tidak marah sama dia. Saya tertawa, tetap guyon. Tapi harap diingat bahwa hati saya marah.
Bagaimana bisa begitu?
Ya, manajemen. Manajemen psikologi, manajemen mental, manajemen kejiwaan. Lho, memang begitu saya. Kalau saya marah selama ini, kecuali pas saya sangat lemah, kecuali saya pas tidak punya energi ruhani yang cukup gitu ya. Selama ini saya kalau marah tidak sebagai ekspresi pribadi. Marah saya selama ini adalah metode sosial gitu. Artinya, oh ini orang memang perlu dimarahi. Maka saya marahi dia. Jadi saya marah bukan karena saya ingin marah atau tidak ingin marah sama dia, tapi karena orang itu butuh dimarahi. Jadi itu metode pergaulan.
Anda didatangi orang untuk berguru, mendengarkan, itu mulai kapan?
Yo, gak iso tak critakno iku. Ya apa, ya? (Ya tak bisa saya ceritakan itu. Gimana, ya?) Itu sebenarnya historis kok. Rumah saya di desa di Jombang itu menjadi pos sosial. Entah anak-anak belajar bersama, entah anak-anak olah raga, entah anak-anak bikin kepanitiaan. Pokoknya dari urusan olah raga sampai konsultasi hukum juga di rumah. Konsultasi soal hama wereng juga ke rumah. Jadi kalau Anda mencari lewat Sosiologi mungkin ada yang namanya tipologi kepemimpinan tradisional. Saya bukan pemimpin, tapi mungkin Anda melacaknya lewat acuan itu. Pemimpin-pemimpin tradisional di desa itu harus bisa memecahkan persoalan apa saja. Ayah ibu saya adalah tipologi semacam itu. Saya, kami dibesarkan dalam iklim seperti itu. Karena itu lima belas saudara saya tidak satupun yang tidak terjun dalam bidang pendidikan. Habis tidak ada yang berbakat lain-lainnya sih. Dagang, saya tidak tega. Saya pernah kok dagang. Pernah tapi tidak tega, habis menang terus. Negoisasi menang. Wah.....mesakke (kasihan) itu sama Cina di Ngasem itu. Begitu menang, wah malah lara dhewe aku. Aduh kasihan. Kalau saya harus begini, untuk apa sih saya harus menang dari orang itu. Saya tidak bahagia dengan menjadi pemenang. Karena itu saya secara filosofis, kalau saya ditanya apa yang murni dari gagasan saya, saya tuh tidak setuju dengan prinsip kalah menang. Kecuali dalam olah raga. Orang tidak pernah bisa menang pada orang lain pada akhirnya. Orang hanya bisa menang pada dirinya sendiri. Dan itu ajaran yang paling kuno. Jadi untuk apa saya mesti menang sama orang lain. Tidak mengerti saya, tidak bahagia. Makanya saya mending kalah saja, tidak apa-apa. Sebab dalam kekalahan saya menemukan kemenangan yang lebih tinggi. Saya bukan pemberontak terhadap orang lain. Mungkin saya dilihat, kadang-kadang suka protes. Yang saya protes bukan orang lain, yang saya lakukan adalah mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap prinsip-prinsip tertentu yang tidak sesuai yang bertentangan dengan keyakinan saya. Itu saja. Mahasiswa saya kritik, saya tentang, biar mereka jumlahnya tiga ribu empat ribu di depan saya. meskipun itu arus opini umum, saya harus tentang. Tinggal caranya saja bagaimana. Dan itu ilmunya adalah ilmu meredam. Ilmu memadamkan itu tiga kali lipat lebih sukar daripda ilmu membakar. Juga menggerakkan massa itu sepertiganya menahan massa, menghentikan. Jadi, kalau saya kembalikan ke soal historis itu tadi, sejak kecil kami dibesarkan dalam atmosfir seperti itu. Tapi saya juga tidak merasa menjadi apa-apa di depan mereka. Saya tidak punya kelompok, tidak pernah punya organisasi, tidak pernah jadi ketua segala macam. Saya tidak pernah membatasi apakah mereka mau di tempat saya, tiga bulan monggo, setahun monggo, sehari monggo, saya tidak pernah membatasi. Saya harus siap untuk didatangi dan ditinggalkan. Saya tidak boleh bahagia karena didatangi atau sedih karena ditinggalkan. Bagi saya datang dan pergi itu mekanisme alam biasa. Tapi tidak wajar rumah Anda menjadi seperti terminal Ya, memang tidak wajar. Dan pada saat-saat tertentu saya juga merasa terjajah oleh itu.
Lalu bagaimana Anda memperoleh privacy?
Akhirnya privacy saya ada di dalam diri saya. Anda tahu, saya sekarang tidak punya kamar. Saya menulis di tengah anak-anak itu. Saya sejak dulu memang sudah berlatih untuk itu. Biar ramainya kayak apa, ya tidak apa-apa. Dulu saya mengetik di pangkuan kayak gini, sambil menemui tamu. Bukan hebat bukan apa, itu soal latihan saja. Dan orang yang datang itu kan tidak bisa juga saya tentukan. Itu tergantung mereka. Tergantung mereka mau jam empat pagi datang, ya silakan.
Anda punya kamar tidur?
Sekarang jadi musholla. Saya tidur di ruang tengah, atau di ruang depan seenaknya. Kadang malah tidur di luar itu enak sekali. Ya memang saya butuhkan privacy, tapi batas dan luas volume privacy ini bagi tiap orang berbeda-beda. Ada penulis yang jika menulis harus sepi betul tidak ada orang. Itu baik saja dan tidak salah. Nah, saya tidak punya posisi sosial untuk mendapatkan itu, tidak punya posisi sosial untuk memungkinkan itu.
Kalau sedang ingin sendiri tanpa diganggu orang lain?
Tidur atau shalat. Atau mendengarkan ngaji tadi itu. (Ketika dalam perjalanan dari rumahnya menuju terminal dan tempat lesehan. Emha memutar kaset blues dan pengajian) Saya oke, sekarang ada anak-anak bercengkarama, anak 20. Terus di sini ada tape terus saya melingkar begini. Ya sudah toh, private toh? Kalau sudah memejamkan mata, siapa yang berani membuka mata saya. Tidak kan? Sudah private itu. Ruangnya cukup seluas tubuh saya ini. Saya malah lebih aman begitu. Jadi di situ saya bisa private tapi saya tetap punya integritas sosial. Misalnya kalau saya meninggalkan orang untuk kepentingan pribadi saya. Okelah, pribadi saya saya taruh di tengah-tengah orang, saya batasi betul jangan sampai pribadi saya di diintervensi, tapi saya juga tetap ada di tengah-tengah orang.


Anda terganggu dengan kesalah-pahaman?
Dulu terganggu tapi sekarang tidak. Karena itu wajib hukumnya. Orang pasti salah paham karena matanya terbatas, ilmunya terbatas, wawasannya terbatas, pandangannya terbatas. Tidak pernah ada hari, detik, di mana orang tidak salah paham kepada orang lain. Kalau saya punya kesempatan untuk menjelaskannya maka saya akan menjelaskan, terutama kalau dia bertanya pada saya. Kalau tidak, bukan salah saya. Kalau saya rugi karena itu, Tuhan yang memberi ganti rugi. Saya percaya itu, saya membuktikan itu dan saya mengalami itu sejak kecil.
Apa masksudnya Tuhan mengganti kerugian?
Setiap kerugian saya, diganti dong. Tuhan kasih ganti rugi, entah dalam waktu enam bulan entah dalam waktu setahun, sehari, seminggu. Saya boleh difitnah orang macam-macam, tapi lihat saja saya akan mendapat ganti rezeki yang setingkat atau bahkan lebih dari itu. Tidak harus uang dibayar uang. Rezeki itu bermacam-macam. Tiap apa yang kita alami adalah rezeki. Setiap kali ini harus ditanggapi, setiap kali saya harus lahir kembali. Setiap pengalaman itu melahirkan saya kembali. Pengalaman itu kayak kaca, terus saya lahir lagi, ada kaca saya lahir lagi. Tapi kelahirannya tergantung pada kita. Dalam Islam itu namanya khalifah. Seorang khalifah itu adalah manusia plus. Manusia yang bukan hanya seekor makhluk yang butuh makan minum, tapi lebih dari itu. Dia aktif, dia kreatif, dia merekayasa, dia berpikir, dia berdialektika, dia berdialog dengan alam, dengan pengalaman dan seterusnya. Kalau dia tidak melakukan itu, bukan khalifah. Dia cukup jadi binatang saja.
Anda juga memperhatikan dan menggali pengalaman sekecil apapaun?
Kalau pakai bahasanya Markeso, kalau ditanya siapa gurumu dulu sehingga kamu bisa menangani segala macam mesin, dia bilang guru saya adalah kerusakan yang saya hadapi itu. Jadi saya harus belajar setiap kali. Belajarnya ya setiap apa yang menjadi tugas saya. Saya punya kepercayaan begini. Kalau Tuhan memberi saya tugas, berarti dia menberi saya fasilitas. Saya percaya kalau saya disuruh ngomong X saya tinggal cari di mana ini X-nya. Ada berbagai jalan. Kalau yang konvensional cari literaturnya. Atau tanya kepada orang lain, atau menggagas-gagas sendiri. Untuk tahu semuanya berapa ribu buku yang saya harus baca. Apalagi mendadak begitu. Saya sering entah ceramah entah seminar itu saya baru tahu judulnya ketika saya naik atau saya dijemput, atau setelah moderator menyebut. Saya ini miskin secara intelektual. Saya ini bodoh. Saya sangat miskin. Yang saya kaya itu materi. Saya bisa menghidupi banyak orang, saya bisa membantu yayasan, sekolahan. Saya bisa membelikan mobil orang. Saya memberikan rumah. Kaya, saya. Iya, kalau di bidang materi. Tapi di bidang intelektual spiritiual saya sangat miskin.
Hanya perasaan Anda saja barangkali?
Bukan perasaaan saya. Lha wong memang yang punya ilmu itu Tuhan. Yang punya ilmu Tuhan. Saya tidak perlu takut akan kekeringan segala macam, karena saya memang selalu kering. Kenapa takut kering? Kalau miskin kan tidak takut miskin. Saya selalu kering, yang basah itu Tuhan. Samodra itu ibarat Tuhan, saya tinggal mencari di mana letak pantai. Nah, metodenya seperti tadi. Dia bisa baca literatur, bisa baca bahan di koran, di perpustakaan. Nah itu tidak mungkin bisa saya lakukan dengan frekuensi kerja kayak begini. Kalau saya seminggu harus tampil 20 kali, kapan saya ke perpustakaan? Apalagi di kota yang beda-beda. Kapan saya menerobos. Caranya buka Qur’an. Itu jalan yang bagi saya paling mungkin. Bukan saya mengagung-agungkan. Habis mau cari kemana? Nah, cara saya membuka Qur’an juga tidak bisa pakai sistematika modern dengan indeks, misalnya. Bisa juga sih, kadang-kadang diperlukan data-data formal. Tapi saya kadang-kadang tidak sempat itu. Saya tengah-tengah menulis sudah harus berangkat, acara di mana gitu. Ya saya Bismillahirrahmanirrahiim saja. Saya buka Qur’an , seet... kalau kira-kira sudah mantep saya buka saja. Sejauh yang saya alami ketemu begitu. Pokoknya, apa yang akan saya omongkan ketemu di situ. Tapi tidak dipercaya, dong, sama ulama-ulama: apaan tuh? Tapi saya mengandalkan kepercayaan saya. Karena saya tidak sempat. Kecuali kalau ada funding organization yang menyediakan perpusatakaan untuk saya, komputer, segala macam. Saya mau bicara apa tinggal set... set... set... set... data sudah beres semua saya tinggal ambil bukunya ini, ini, ini. Ya duit untuk beli semua itu mending saya pakai untuk membiayai Markeso buka bengkel, dong. Dan urgensi untuk itu, tuntutan untuk itu sangat banyak. Sekolah di desa saya kan defisit terus karena orang desa tidak bisa bayar uang sekolah untuk anaknya, maka saya harus support terus misalnya. Kalau saya punya uang jatah untuk komputer, sebelum dibeliin itu pasti sudah lari untuk keperluan-keperluan yang kayak gitu. Adik saya kan belum selesai semua, atau yayasan, sekolahan, pengembangan masyarakat, atau siapa yang di sekitar saya. Makanya saya kaya raya di bidang itu.
Orang melihat kelebihan-kelebihan Anda. Apakah Anda melihat ada kelemahan?
Maka saya akan hilang begitu saya melihat kelebihan. Saya akan kehilangan, begitu saya merasa mempunyai kelebihan, begitu saya merasa bahwa saya memiliki sesuatu. Apa yang selama ini terungkap dari saya, hakekatnya itu bukan milik saya. Saya selalu bukan hanya mengatakan itu, tapi selalu terus harus menanamkan kesadaran itu setiap saat. Begitu saya merasa memiliki sesuatu, merasa pandai, merasa memiliki ini, saya menjadi hilang. Manusia itu cuma medium dari kehendak dan ilmu Tuhan.
Itu pada kelebihan. Bagaimana kalau pada kelemahan?
Kelemahan itu takdir Tuhan, kodrat Tuhan. Tuhan itu kan hebat. Tapi bagaimana Tuhan tampak kehebatannya kalau tidak diciptakan hamba-hamba yang lemah, begitu kan? Bagaimana cahaya bisa tampak kalau tidak dengan kegelapan.
Tuhan egois dong?
Memang. Dan dia berhak untuk itu. Dia yang bikin. Semua hanya dia yang mampu. Mike Tyson itu kan modalnya 90 persen dari Tuhan, seharusnya Tuhan terima 4,5 juta dolar AS.
Tidak Anda nikmati menjadi panutan orang?
Kenikmatan saya adalah rasa tidak punya saya di depan Allah. Itu nikmatnya bukan main. Kalau jadi panutan itu kenikmatan kecil-kecil kayak orang mendengarkan lagu. Tapi saya tidak menikmati, saya tidak senang jadi bintang. Saya menghalangi saya untuk jadi Zainuddin MZ. Saya tidak mau jadi tanjidor. Disuruh nyeneng-neyenengin orang. Bintang kita cuma satu, Allah. Wakil bintang cuma satu, nabi-nabi. Itu saja. Kalau saya, sih apa. Saya cuma makelar kecil-kecilan.
Anda membayangkan nanti sauatu hari akan berhenti menjadi sesuatu?
Oh tidak. Saya tidak akan menjadi apa-apa. Saya akan hilang. Saya akan hilang, karena perjalanan saya tidak di dunia ini. Ya, ini kan peran-peran sosial saja, akting saja. Keaktoran saja. Itu bisa berubah-ubah.
Ada peranan yang paling disukai?
Peranan yang paling saya sukai adalah improvisatoris seperti ini. Kalau dalam sepak bola peran yang boleh maju boleh mundur. Boleh jadi kiper. Jadi semacam destroyer, yaitu pemain yang carangan kalau dalam wayang. Tidak pakem gitu.
Menurut Anda, Anda ini apa?
Kadang-kadang jadi penyair, kadang-kadang jadi kyai, tergantung apa yang dibutuhkan. Karena itu saya tidak mengurus karier, tidak mau disekat.
Anda tak mau terikat oleh apapun?
Kalau memang pada suatu hari saya harus terikat di suatu ruang, ya tidak apa-apa. Tapi buktinya saya sampai sekarang tidak boleh oleh orang lain untuk terikat. Mesti berpindah ke kamar yang bermacam-macam. Ya terserah aja.
Berarti hidup Anda diatur orang lain dong?
Ya, sekarang siapa menunggangi siapa, siapa mengatur siapa.
Jangan-jangan tunggang-tunggangan?
Hidup kan begitu. Itu proses mekanisme yang tidak pernah tidur. Terus menerus, tunggang menunggangi. Ketika saya sudah mulai merasa ditunggangi, dan itu tidak positif untuk umat, untuk mereka yang menunggangi saya, saya coba ubah. Ya itu tadi, hidup itu memang tunggang-tunggangan.
Tapi Anda memang orang yang tidak mau terikat ya, oleh istri sekalipun?
Oleh istri? Mau. Mau. Saya sangat terikat oleh istri saya. Keluar dua jam itu saja sudah ...ha... mau kok saya. Terikat oleh apa lagi saya? Kantor? Mau saya. Kerja di mana mau saya. Saya bukan orang yang sok seniman yang mau bebas, ingin petualangan. Mau kok saya terikat. Tapi buktinya, yang jelas, sampai sekarang belum ada itu ikatan.
Anda sampai menjadi duda kembang* itu apa karena tidak mau diikat?
Tidak, saya taat di rumah. Saya taat. Saya menjadi duda kembang justru untuk meningkatkan cinta kami. Kalau dulu saya menjadi menantunya mertua saya, sekarang saya menjadi anak orangtua istri saya. Saya bukan lagi menjadi menantu mereka, tapi mereka sudah manjadi bapak ibu saya. Sudah meningkat kualitasnya. Kalau dulu dia adalah istri saya, sekarang dia adalah adik saya. Sudah lebih dekat, toh? Kalau istri kan orang lain, kalau adik kan bukan orang lain. Kalau istri sama suami bisa berontak, bisa marah. Tapi kalau adik, saya akan selalu memaafkan, saya selalu menasehatinya dengan arif, tanpa emosi seperti kalau saya jadi suami. Kalau jadi suami saya punya harga diri sebagai suami, saya sebagai laki-laki. Dia adalah saudara saya, dia adalah sahabat saya, kadang-kadang dia adalah guru saya. Saya juga taat sekali sama anak saya. Umurnya sebelas tahun. Saya sama anak saya taat sekali. Bukan di taat sama saya.
Maksud Anda?
Karena dia sangat saya didik untuk bisa saya taati. Saya taat sama dia. Kalau dia menyuruh saya pulang, saya pulang. Menyuruh saya tidur, saya tidur. Karena saya sudah percaya sama dia.
Padahal tempatnya jauh?
Ya, jauh itu kan soal geografis.
Berapa tahun Anda menduda?
Sudah lama, tiga tahun. Sejak 87.
Selama tiga tahun itu Anda punya pacar?
Wah, definisi pacar itu yang tidak jelas. Teman wanita saya banyak, banyak sekali.
Tapi Anda merasakan bedanya ketika punya istri dan tidak?
Ada bedanya. Tapi dibikin tidak ada bedanya, itu soal manajemen. Semua ada metabolisme. Kalau Anda makan Anda tidak perlu merencanakan kapan Anda berak. Dia berak dengan sendirinya. Kapan sperma keluar itu ada metabolismenya. Ada credonya sendiri. Anda tidak perlu memaksakan dia untuk keluar atau memaksakan semingggu keluar berapa kali. Sebab dia sudah bekerja dengan sendirinya. Itu soal cara mengatur, kok.
Tapi rasa sepi, rasa butuh itu kan muncul begitu saja?
Kalau rasa kesepian saya bukan di bidang itu. Kesepian saya adalah kesepian abadi dari hakekat manusia. Misalnya, Anda tidak mungkin dipahami oleh orangtua Anda secara penuh. Dalam keadaan tidak dipahami itu oranng seperti terkurung dalam kegelapan. Nah, itu yang namanya kesepian. Berjuta-juta orang yang membaca tulisan saya tidak sungguh-sungguh tahu apa yang saya maksudkan. Mereka juga tidak bisa memahami hidup saya: itu kesepian. Karena apa? Karena bagi mereka saya itu hidup di dalam kegelapan. Mereka tidak bisa melihat, misalnya. Itu yang namanya kesepian.Kalau kita punya idealisme X dan orang lain Y semua, itu Anda kesepian. Itu lebih sepi dari pada Anda tidak punya istri.
Apa itu berarti tidak punya keinginan beristri lagi?
Bisa dikatakan punya, bisa dikatakan tidak punya. Saya gampang kok. Kadang-kadang saya ingiiin, tapi kadang-kadang saya juga ingin membujang sepanjang hidup. Dan itu ....... itu sekunder kok. Tidak penting.
Pada saat mana keinginan-keinginan semacam itu timbul?
Ketika sentimentil, dan saya sadari ini Emha sedang sentimentil. Terus saya umum-umumkan saya sedang sentimentil. Saya nikmati. Tapi kalau saya kemudian sudah menghadapi sesuatu yang menabrak, sentimentalitas saya taruh di lemari. Sentimentalnya lempar saja, sekarang saya hadapi sebagai saya. Saya dengan Emha ada bedanya. Emha dengan Ainun ada bedanya. Ainun dengan Najib ada bedanya. Kan begitu? Soal peran saja kok. Bahkan kalau kita bicara kosmofilosofi, kita ini Tuhan yang sedang memerankan dirinya untui konteks tertentu.
Bagaimana pandangan Anda tentang wanita?
Waduh, waduh. Saya harus merekonstruksi lagi apa yang pernah saya temukan. Jadi wanita itu enak, dimuliakan Tuhan.
Anda pernah ingin jadi wanita?
Kadang-kadang. Saya tidak pernah merasa jadi laki-laki atau jadi perempuan. Saya manusia. Jadi perspektif yang saya pilih, nomor satu saya adalah manusia. Benazir Bhutto pidato, yang pidato bukan wanita tapi kecerdasan dan kepahlawanan. Karena itu saya agak bingung dengan feminisme. Gerakan, ya gerakan kemanusiaan saja. Itu satu-satunya cara untuk menyamakan atau untuk tidak mendiskriminasikan wanita di bawah kaum lelaki. Begitu Anda masih beda-bedakan, antara laki-laki oleh hirarki budaya atau feodalisme budaya, antara laki-laki dan wanita. Itu cuma status biologis dan psikologis kecil-kecilan saja. Tapi yang jelas setiap laki-laki punya unsur kewanitaaan, dan setiap wanita punya unsur kelelakian. Karena itu epistemologi, dan filsafat dan pengetahuan manusia bingung menentukan mana sebenarnya substansi laki-laki dan mana substansi wanita. Dan itulah kesalahan gerakan feminis, itulah kesalahan gerakan diskriminasi laki-laki, dan itulah kesalahan ilmu pengetahuan. Apa sebabnya saya bilang kesalahan? Sekarang ilustrasi budayanya saja. Kalau ada orang jujur, sportif, berani, dia disebut jantan. Wah, itu laki-laki betul. Kalau ada orang yang pengecut, lembek, curang, disebut: wah betina lu! Ini kesalahan epistemologis, kesalahan filsafat. Ini kalau saya jadi wanita saya akan marah. Marah besar saya itu. Enak saja kalau curang disebut betina.
Kan dunia milik laki-laki?
Tidak! Dunia milik manusia. Bahwa realitanya direbut laki-laki silakan, kita semua memperjuangkan. Saya tidak mengatakan bahwa wantia mesti berebut itu, karena berarti saya bersikap sebagai laki-laki. Saya tidak menyarankan wanita supaya berjuang. Mari kita berjuang bersama-sama sebagai manusia menumbuhkan kembali keadilan dan kebenaran. Itu salah satu paham manusia. Kalau laki-laki menangis, penilaian Anda bagaimana? Tidak apa-apa. Menangis itu hak manusia dan itu naluri manusia. Kenapa?
Anda pernah menangis?
Kalau bertengkar dengan istri saya, saya shalat menangis tidak karu-karuan. Kalau Anda sudah terbuka hijabnya sama Tuhan, tiap hari menangis. Kenapa? Menangis itu manusia, menangis itu urusannya manusia, bukan urusannya wanita. Bukan laki-laki bukan perempuan. Nothing to do, itu manusia.Memangnya laki-laki tidak punya air mata? Berarti ada mekanisme biologios yang berbeda, kalau hanya wanita saja yang pantas untuk menangis. Berarti laki-laki oleh Tuhan tidak disediakan air mata. Air mata laki-laki untuk apa? Mau dikeluarkan dari bawah terus?
Apa yang membuat Anda sedih?
Saya sedih kalau ada hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya saya melihat, dan saya tahu persis dan saya membuktikan dan saya mengalami manusia itu sangat canggih. Otaknya itu seperti sejuta komputer. Manusia itu begitu hebat diciptakan oleh Tuhan. Makanya dia disebut makhluk tertinggi: malaikat kalah, jin kalah. Lha kok kalau malam saya lihat di TV tuh begini-begini. Singkong dan keju....singkong dan keju....(Emha menggoyangkan tubuhnya seperti gaya penyanyi di TV) saya kan sedih. Tidak masuk akal bagi saya. Sebab manusia itu begitu canggih kalau dia mengaktifkan, memanfaatkan akalnya, nalurinya segala macam. Lha kok tiap malam kayak begitu, dan itu mayoritas lagi. Dan disenangi oleh begitu banyak orang. Kan sedih saya?
Waktu masih kecil, Anda pingin jadi apa?
Tidak begitu jelas, apa cita-cita saya. Saya tidak pernah punya cita-cita yang jelas. Artinya cita-cita dalam format, tata nilai modern itu, ya: apakah jadi penyair? Apakah jadi presiden? Apa jadi menteri? Tidak jelas saya. Yang setiap hari mengisi hidup saya adalah bahwa saya harus melakukan ini, ini, ini. Gatal saya. Tiap hari diisi oleh obsesi, wah, saya mesti ngerjain ini-ini. Wah, mesti ini. Saya tidak sempat mikir hasilnya apa gitu. Saya jadi apa dengan itu, saya tidak pernah memikir. Tapi saya bisa ngerjain apa? Jadi bukan to be atau to have tapi to do. Sempat saya enam-tujuh jam tidak kerja, saya mulai masuk angin. Dan itu siksaan yang luar biasa. Kesedihan yang luar biasa. Hutang rasanya.Saya punya hutang kepada Tuhan, kepada hidup saya, kepada potensi-potensi yang Tuhan berikan kepada saya.
Kecilnya di Jombang sampai umur berapa?
Sampai SD kelas V. Terus saya bertengkar untuk kedua kalinya sama guru saya, terus saya pindah. Kalau bertengkar yang pertama, saya kelas satu. Saya naik ke meja, saya loncat, leher guru saya terus saya tekek (cekik) begini, kan. (Sambil memperagakan dengan lehernya sendiri) Akhirnya sedemikian rupa sehingga saya terkencing-kencing. Wah, baju baru padahal barusan dibeliin di pasar. Celana coklat pramuka. Santo, nama guru saya itu. Saya pulang. Saya tiap hari lapor sama ibu-bapak saya, wah ini mengajarnya begini, males datangnya, terlambat begini, begini, pokoknya saya protes. Kelas V protesnya memuncak. Terus saya dipindah ke Gontor, ke SD Gontor, Madrasah. Jadi pagi sekolah SD, antara jam 12 sampai jam dua saya menggembalakan kambing. Itu tadi, saya sejak kecil di Jombang menggembalakan kambing. Terus jam dua sampai jam setengah enam sore, sekolah lagi.
Itu sampai berapa tahun?
Ya, sampai tamat. Setelah tamat, saya masuk pesantren, dua setengah tahun. Dua setengah tahun saya keluar, diusir ke Yogya karena teman-teman demonstrasi. Mereka keliling membawa itu. Tapi yang nomor satu harus bertanggung jawab, kan saya. Jadi siang demonstrasi, malam saya dipanggil, diadili jam dua malam sampai subuh. Dan sehabis subuh saya juga harus bersiap-siap masukin pakaian. Jam setengah tujuh pergi, pulang. Dan saya ....tidak merasakan apa-apa, itu susahnya saya. Tidak merasakan apa-apa. Saya tidak gelo, saya tidak merasa gimana. Saya juga tidak ingin sekolah lagi. Saya tidak merasakan apa-apa. Yang panik orangtua saya. Ayah saya panik. Akhirnya dia mengajar saya. Justru ilmu-ilmu pesantren tradisional itu, yang mengajari ayah saya. Di Gontor, kan tidak tradisional. Nah, baru dari sana, saya disekolahkan di Yogya. Saya di sini.... korupsi ijazah, raport SMP. Kan, saya tidak punya raport SMP. Karena saya belum tamat kelas III. Saya harus punya ijazah SMP baru masuk SMA. Nyogoknya dengan bola voli dan net voli. Jadi saya ini tidak sah. Ijazah saya semua itu tidak sah. Karena korup. Saya masuk SMP di sini kira-kira empat bulan ikut ujian, terus masuk SMA. Selesai SMA, saya sempat keluar waktu SMA, terus masuk lagi. Ya, begitulah, bertengkar terus sama guru. Terus demi ibu saya, saya masuk lagi. Ibu saya menangis-nangis, supaya saya.....sudah deh, kalau mau tidak sekolah nanti sesudah tamat SMA. Kemudian saya tamat, terus masuk Ekonomi UGM.
Pertama jatuh cinta usia berapa?
Waduh, susah ini. Waduh kapan? (“Cinta dalam pengertian apa dulu?” tanya Imam, sekretarisnya, ikut nimbrung melihat Emha terdiam untuk beberapa saat).. Cinta dalam pengertian eksklusif, begitu ya? Unsur-unsur yang merupakan bagian dari yang disebut cinta, mungkin pernah saya rasakan. Tapi saya tidak pernah bisa menjadi totalitas. Sebab saya sudah terlanjur menjadi....terlanjur begini, integral dengan lingkungan sosial. Jadi cinta saya mungkin lebih bersifat universal dari pada personal. Makanya yang pribadi tidak bisa total. Misalnya istri saya, katakanlah ya, misalnya pacar saya, saya punya pacar terus dia hubungan dengan laki-laki lain, sikap saya itu tidak
personal, obyektif. Sikap saya itu sikap memberi ruang, Kalau memang kamu senang, tidak apa, terus, tapi asal serius. Kalau memang kalian mau kawin, apa yang bisa saya lakukan akan saya lakukan. Kalau kalian perlu modal, saya coba ikut carikan. Kalau begitu tidak pernah patah hati dong. Menindas perasaan sekali itu? Iya. Sampai anak saya ternyata begitu juga. Wah, anak saya itu mulia. Sama saya itu begitu menampung, begitu toleran, demokratis. Saya ngeri juga kadang-kadang, menangis juga. Mbok kamu tidak usah terlalu demokratis, saya bilang. Duh, mbok ya sudah. Anak kecil itu mbok ya manja, terus agak menuntut sedikit. Masak anak kecil begitu toleran.
Laki-laki?
Laki-laki. Begitu toleran. Kalau saya pulang, dia datang, kan saya nyediain duit, banyak sekali. Kamu mau beli apa? Udah deh, terserah saja, asal jangan beli toko, saya bilang. Itu dia, harus empat lima kalilah, untuk “iya”. Dia tidak mau. Kalau sudah saya ajak naik becak ke toko. Dia akan selalu bertanya, “Iki tenan po dhuwe duit? Ah, ora usahlah.” Ini betul-betul punya uang.
“Ah, tak usahlah!” Dia toleran betul.
Tadi Anda sempat omong hantu, memang Anda percaya, ya?
Ya, kita menyebutnya hantu, tapi apa sebenarnya rumusannya., apa sebenarnya rumus dari realitas yang kita sebut hantu itu? Itu mungkin kita berbeda-beda. hantu itu bisa juga refleksi subyektif saja dari halusinasi-halusinasi. Bisa juga merupakan bagian dari dimensi yang kita tidak mengenalinya. Kita hanya kadang-kadang saja sampai kepada momentum dan kondisi untuk bersentuhan dengan dimensi itu. Ini kalau menjelaskan secara ilmu pengetahuan. Atau dia betul-betul semacam makhluk hidup. Ketiga-tiganya mungkin. Itu sama dengan facsimili, siaran TV. Itu sangat mungkin, persentuhan dengan dimensi itu. Itu mungkin bisa dijelaskan dengan fisika atau kimia, ya. Bisa juga dia makhluk sungguhan, misalnya jin. Kita kan cuma tahu tiga atau empat dimensi paling pol, sedangkan dimensi hidup ini tidak terhingga jumlahnya. So kenapa kita sok-sok mengklaim ini tidak ada, itu ada.
Kalau tentang mistik?
Mistik itu bukan barang obyektif, mistik itu realitas. Lain dengan klenik. Klenik itu sesuatu yang tidak ada Anda anggap ada. Ini seperti tipologi hantu yang pertama, itu klenik. Apa yang sebenarya tidak ada, Anda anggap ada, itu klenik, tahayul namanya. Seperti celana jeans merk Levi’s, ituklenik. Yang Anda beli sebenarnya apa sih? Apa yang diumum-umumkan bahwa itu gengsi, bahwa itu modis, bahwa itu trendi, gitu ya, itu kan tahayul. Tidak realistis sebenarnya. Dan manusia modern ini menjadi konsumen klenik yang luar biasa mahal, misalnya. Jadi kalau orang mau hantem klenik, saya malah milihnya yang klenik-klenik di toko-toko itu. Isinya Malioboro itu klenik semua. 90 persen, menurut saya. Orang tanpa Malioboro bisa hidup kok.
Kalau masalah hari baik dan hari buruk?
Ya, ada hari baik hari buruk. Cuma belum tentu seperti yang dibilang Bataljemur atau oleh perhitungan-perhitungan klenik itu. Ada hari buruk hari baik, dalam arti ada cuaca-cuaca yang berbeda-beda dari jengkal waktu dan ruang. Seperti kalau dalam politik, revolusi atau ledakan terjadi hanya kalau ada perkawinan antara isyu dan momentum. Ah, terus, kalau ini tadi, hari baik hari buruk, ya itu ada. Ya kalau pagi kan saat yang terbaik bagi saya untuk menulis gitu, misalnya. Tapi kalau sore-sore, awak habis bekerja kesana kemari, ini penuh polusi segala macam, saya menulis tidak begitu jernih. Jadi perhitungan Jawa jangan lantas disalahkan, yang salah mungkin interpretasinya. Cara menghitungnya. Realitasnya tentu ada, jelas dong ada hari baik hari buruk, ada saat klop dengan atmosfir alam ada saat tidak. Bukan hanya hari tapi saya menjumpai ada. Saya pada hari-hari tertentu tidak melakukan hal-hal tertentu, berdasarkan riset terhadap hidup saya sendiri. Bukan mau klenik-klenikan, kalau baca Bataljemur saya tidak pakai, tapi berdasarkan riset saya sendiri dan orang lain tidak tahu. Artinya itu tidak bisa diobyektivisir. Hidup ini luas. Kenapa pemain sepak bola yang menurut perhitungan rasional jelas bisa menjadi bintang malah memble. Piala dunia itu membuktikam kelemahan ilmu-ilmu baku modern. Ada banyak faktor, dimensi, unsur yang dunia sepakbola modern belum pernah menyentuhnya, karena itu mereka selalu salah sangka. Akhirnya bilang Dewi Fortuna, wah angin baik, wah off day. Ya toh, wah bola itu bundar, apa itu. Itu namanya barang gaib. Dan bagi setiap orang gaib itu berbeda. Hukum makan saja bisa berbeda-beda, kok. Coba tanya saja sama ulama, hukumnya makan apa, kan halal, minum teh halal. Padahal hukumnya
makan itu wajib. Sebab kalau tidak wajib berarti Anda bisa tidak makan. Kan mati? Minum teh juga bisa haram. Naik haji juga bisa haram. Tapi itu interpretasi fiqih saya, tidak berlaku. Makanya saya tidak mau jadi budaknya mereka. Saya juga tidak mau disetir oleh masyarakat, oleh umat. Tidak boleh begini begitu. Kalau pagi-pagi begini di pasar (Emha merunduk memeluk tubuh seperti orang kedinginan) nanti dibilang, “Gimana ini mubaligh kok begitu.” Saya tidak mau disetir sama masyarakat, tidak boleh bergaul sama ini, ini, istri saya harus berjilbab segala macam. Saya akan memberontak dengan segala resikonya. Kapan saya sembahyang kepada masyarakat? Saya shalat kepada Allah, saya berpedoman kepada mata Allah. Dan ini mungkin jawaban yang paling inti
dari yang Anda tanyakan.
Kalau dengan sikap itu Anda lalu dituduh masyarakat sebagai sok seniman, sok nyentrik bagaimana?
Ya kalau dia hanya mampu berpikir itu, saya tidak punya hak untuk menuntut lebih dari itu. Dan dia sendiri yang harus menjawab. Kalau dia memang puas dengan kesimpulan seperti itu yang salah bukan saya. Nanti dia ditanya sama Tuhan kok kamu tidak mengembangkan wawasan kamu? Ya, bukan salah saya. Jadi saya tidak nuntut orang. Kalau orang buta warna melihat TV berwarna cuma hitam putih, saya bilang apa? Itu soal mata dia kok. Kalau dengar gosip tentang Anda bagaimana reaksinya? Ya saya anu ....nikmati, “Oh, iya toh? Wah ....edan, gile gue pacaran sama bintang film. Gile!” Tidak penting itu. Saya nikmati bukan saya nikmati gosipnya itu, tapi bagi saya itu komedi saja. Itu ilustrasi hidup. Nasib.
Pandangan tentang perzinahan?
Oh, kalau itu mutlak.
Dalam kehidupan Anda semacam ini, bagaimana mengatasi kebutuhan seksual?
Lho kan saya sudah bilang., orang kalau makan kan berak sendiri.Sebagai manusia kan kebutuhan....Itu kan....makhluk itu, butuh ruang dan waktu. Jadi jangan kasih ruang dan waktu dia. Sedih itu sering. Hanya sedikit saya kasih ruang dan waktu. Apa mungkin terjadi kesedihan tanpa ruang dan waktu. Teori itu efektif untuk konsultasi-konsultasi di rumah atau di mana saja. Gampang kok, supaya kamu tidak stress itu jangan kasih ruang dan waktu dia. Jadi kamu sediain reserve kerjaan yang banyak. Sehingga begitu ada gejala mau diintervensi stress cepat bertindak. Dan tidak akan eksis kesedihan itu atau apapun saja kalau tidak dikasih ruang dan waktu. Karena itu saya menyesal cewek-cewek pada ngumumin ukuran BH segala macam. Karena itu saya suka kesel sama Tuhan, aduh, kalau bikin cewek mbok jangan cakep-cakep kayak gitu, aduh, manatahan.... Ya itu soal mengeliminir saja.
Caranya bagaimana?
Dengan bekerja. Anda tahu frekuensi kerja saya. Sampai badan saya kurus kayak begini., tua....Atau gini, latihan. Saya orang yang tidak ekstrim. Saya juga harus punya rasa demokrasi terhadap nafsu seks. Dia tidak boleh saya halangi begitu saja. Jadi harus di..... ibarat es gitu harus dithuthuk erlahan-lahan supaya menjadi air. Jadi saya nikmati itu di jalan cewek cakep. Saya nikmati. Sambil bekerja otak saya, bahwa itu kalau saya terus-terusin hanya begitu, kok. Kalau saya terusin ya cuma begitu itu. Saya sudah tahu persis. Dan sedetik sesudah saya sampai di puncak gunung Fujiyama itu saya menyesal. Jadi saya sudah ekstase sebelumnya gitu lho. Sudah sampai saya sebelumnya. Jadi saya
menyesal. Ya kadang-kadang, iseng-iseng, sabar ya sabar. Tugasnya lain-lain di muka bumi ini. Asal bisa mengkomedikan. Saya mungkin pakai ludruk kalau begitu. Naluri orang Surabaya, orang Jawa Timur itu kan kesedihan dikomedikan.[] TIARA, 2 September 1990










Tidak ada komentar:

Posting Komentar