Mahasiswa adalah struktur
yang unik dalam tatanan masyarakat, baik dilihat dari sudut politik, ekonomi,
maupun sosial. Hal dikarenakan masa ketika menjadi mahasiswa adalah masa
transisi sebelum mereka melanjutkan dirinya sebagai seorang profesional,
pejuang, politisi, atau pengusaha. Selain itu, keunikannya juga tampak dari
kebebasan yang mereka miliki, baik kebebasan berpikir, berpendapat, berekspresi,
atau melakukan apapun. Komunitas mahasiswa juga merupakan satu-satunya komunitas
yang paling dinamis dalam menangkap dan mengakomodasi sebuah perubahan serta
paling harmonis dalam menyuarakan pendapat. Sebab, mahasiswa adalah asosiasi
dari kejujuran, integritas dan semangat moral. Dalam diri mahasiswa, juga
terdapat kumpulan calon cendekiawan, pahlawan, negarawan, serta profesi lainnya
Alangkah sayangnya, jika posisi yang strategis dan unik dari mahasiswa di atas,
dibiarkan begitu saja berjalan tanpa ada pemompa semangat dan simpati
masyarakat. Yang sering terjadi dan dijadikan ukuran gerakan mahasiswa, memang
adalah keunggulannya dalam mengkonsolidasi sebuah gerakan dan penjatuhan sebuah
rezim. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa 1966, 1998, dan 2001 dianggap sukses.
Sedangkan gerakan mahasiswa 1974, 1978, dan 2002 dianggap sebagai pecundang dan
hanya mengacaukan ketenangan masyarakat. Penilaian seperti itu sangat
simplistis dan ukuran sebuah keberhasilan gerakan tidak semudah analisis formal
seperti itu.
Sebuah gerakan mahasiswa yang masih mau berpretensi menjadi gerakan moral dan pengawal kebijakan pemerintah demi menuju demokrasi, ukuran kalah atau menang dan kuat atau lemah tidaklah menjadi standar penilaian. Yang lebih penting adalah, bahwa ketika terjadi pertarungan antara isu demokrasi dan dagang sapi, penindasan dan keadilan sosial, kejujuran dan korupsi, maka mahasiswa harus tetap konsisten berdiri di belakang rakyat. Dengan begitu, meskipun tidak berhasil menumbangkan rezim, mereka tetap akan dikenang rakyat sebagai pahlawan hati nurani dan penyambung aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Menurut Craig Calhoun, peristiwa terbunuhnya para mahasiwa yang melakukan demonstrasi di lapangan Tiananmen pada 1988, akhirnya terbukti banyak berpengaruh dalam penumbangan kekuasan Deng Xiaoping. Sebab, pascaperistiwa tersebut, terjadi pertikaian elite politik di pemerintah dan tubuh Partai Komunis Cina yang menyebabkan pergeseran kekuasaan (Neither Gods Nor Emperors, Students and Struggle for Democracy in China,1997).
Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus senantiasa bangkit dan bersemangat untuk menyelamatkan bangsanya dari sebuah konspirasi politik nasional ataupun kekuatan kapitalisme global. Berkaitan dengan ini, Sutan Syahrir dalam sebuah konferensi Sosialis Asia di Bombay (India) tahun 1956 pernah meneriakkan sebuah kata-kata yang bagus untuk dikenang dan dipraktikkan. Yaitu: "Para mahasiswa sebagai kelompok pemuda harus bangkit melawan ketidakadilan sosial di negeri-negeri mereka sendiri. Para mahasiswa harus mengoreksi leadership formal di suatu negeri".Jika mahasiswa mampu melakukan hal itu, maka pengandaian Hariman Siregar bahwa gerakan mahasiswa adalah pilar kelima demokrasi setelah pers, bukanlah sebuah isapan jempol dan harapan semu belaka.Pengawalan rezim pemerintah yang tentu tidak ada yang berjalan secara sempurna itu, memang mutlak dipelopori oleh mahasiswa. Paling tidak, hal itu dikarenakan keharusan mahasiswa sebagai aset masa depan bangsa untuk sadar akan posisi bangsa yang sedang suram dan oleh karenanya membutuhkan sebuah perbaikan. Dan sebuah perbaikan itu, tidak akan dijalankan oleh pemerintah dengan sebaik mungkin, jika tidak dikritisi dan dikoreksi setiap saat. Selain itu, sebagai pelopor gerakan yang mengkritisi pemerintah, mahasiswa mempunyai posisi yang signifikan. Maksudnya, dibandingkan elemen masyarakat atau gerakan lain, gerakan mahasiswa relatif masih bersih dan tidak terkontaminasi oleh arus kepentingan pragmatis. Meskipun ada sebagian yang seperti itu, pada umumnya para mahasiswa masih punya hati nurani dan kemauan berpikir dengan jernih. Dengan melakukan itu, gerakan mahasiswa tidak hanya menjadi gerakan elitis yang tidak berbasis di akar rumput. Pendidikan politik rakyat kecil adalah salah satu upaya yang sangat signifikan guna membuka jalan lapang menuju Indonesia Baru yang demokratis
Harapan konstruksi Indonesia Baru memang layak diselamatkan pada gerakan mahasiswa yang mempunyai paradigma baru seperti di atas. Sebab, di saat para politisi sibuk berkampanye diri, para tokoh bangsa berlomba-lomba menjadi calon presiden, banyak aparat keamanan menjadi beking judi, para agamawan sibuk berdebat tafsir kebenaran, serta para LSM giat mencari proyek pemberdayaan rakyat, pers dan media massa tidak jarang yang jadi ajang iklan politik, maka gerakan mahasiswa adalah aset bangsa yang patut untuk dijaga Terlebih lagi, perjalanan reformasi yang berjalan terseok-seok ini, bisa menyebabkan rakyat frustasi dan rindu akan masa lalu. Jika itu terjadi, ibaratnya kita keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya, dan tercebur lagi ke mulut singa. Tentu saja, masa depan bangsa ini harus diselamatkan dengan kebersihan hati nurani, progresivitas gerakan, dan pemotongan aktor-aktor masa lalu yang ingin berkuasa lagi tapi terbukti culas dan menipu rakyat.
Terakhir, basis intelektualisme pada diri aktivis gerakan mahasiswa, adalah sebuah keharusan yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Dengan intelektualisme ini, maka pengajuan analisis dan konsep alternatif untuk rekonstruksi Indonesia ini akan mudah dilakukan. Selain itu, kejayaan para pejuang dan negarawan Indonesia zaman kemerdekaan yang sanggup menggabungkan kualitas intelektualisme dan aktivisme dapat kembali terulang menjadi kenyataan. Sosok-sosok seperti inilah, yang sebetulnya relatif bisa dipercaya memimpin dan mengatur Indonesia ke depan. Tentu saja, kualitas moral dan spiritual adalah sebuah pencapaian diri yang juga harus diupayakan terus-menerus.
Sebuah gerakan mahasiswa yang masih mau berpretensi menjadi gerakan moral dan pengawal kebijakan pemerintah demi menuju demokrasi, ukuran kalah atau menang dan kuat atau lemah tidaklah menjadi standar penilaian. Yang lebih penting adalah, bahwa ketika terjadi pertarungan antara isu demokrasi dan dagang sapi, penindasan dan keadilan sosial, kejujuran dan korupsi, maka mahasiswa harus tetap konsisten berdiri di belakang rakyat. Dengan begitu, meskipun tidak berhasil menumbangkan rezim, mereka tetap akan dikenang rakyat sebagai pahlawan hati nurani dan penyambung aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Menurut Craig Calhoun, peristiwa terbunuhnya para mahasiwa yang melakukan demonstrasi di lapangan Tiananmen pada 1988, akhirnya terbukti banyak berpengaruh dalam penumbangan kekuasan Deng Xiaoping. Sebab, pascaperistiwa tersebut, terjadi pertikaian elite politik di pemerintah dan tubuh Partai Komunis Cina yang menyebabkan pergeseran kekuasaan (Neither Gods Nor Emperors, Students and Struggle for Democracy in China,1997).
Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus senantiasa bangkit dan bersemangat untuk menyelamatkan bangsanya dari sebuah konspirasi politik nasional ataupun kekuatan kapitalisme global. Berkaitan dengan ini, Sutan Syahrir dalam sebuah konferensi Sosialis Asia di Bombay (India) tahun 1956 pernah meneriakkan sebuah kata-kata yang bagus untuk dikenang dan dipraktikkan. Yaitu: "Para mahasiswa sebagai kelompok pemuda harus bangkit melawan ketidakadilan sosial di negeri-negeri mereka sendiri. Para mahasiswa harus mengoreksi leadership formal di suatu negeri".Jika mahasiswa mampu melakukan hal itu, maka pengandaian Hariman Siregar bahwa gerakan mahasiswa adalah pilar kelima demokrasi setelah pers, bukanlah sebuah isapan jempol dan harapan semu belaka.Pengawalan rezim pemerintah yang tentu tidak ada yang berjalan secara sempurna itu, memang mutlak dipelopori oleh mahasiswa. Paling tidak, hal itu dikarenakan keharusan mahasiswa sebagai aset masa depan bangsa untuk sadar akan posisi bangsa yang sedang suram dan oleh karenanya membutuhkan sebuah perbaikan. Dan sebuah perbaikan itu, tidak akan dijalankan oleh pemerintah dengan sebaik mungkin, jika tidak dikritisi dan dikoreksi setiap saat. Selain itu, sebagai pelopor gerakan yang mengkritisi pemerintah, mahasiswa mempunyai posisi yang signifikan. Maksudnya, dibandingkan elemen masyarakat atau gerakan lain, gerakan mahasiswa relatif masih bersih dan tidak terkontaminasi oleh arus kepentingan pragmatis. Meskipun ada sebagian yang seperti itu, pada umumnya para mahasiswa masih punya hati nurani dan kemauan berpikir dengan jernih. Dengan melakukan itu, gerakan mahasiswa tidak hanya menjadi gerakan elitis yang tidak berbasis di akar rumput. Pendidikan politik rakyat kecil adalah salah satu upaya yang sangat signifikan guna membuka jalan lapang menuju Indonesia Baru yang demokratis
Harapan konstruksi Indonesia Baru memang layak diselamatkan pada gerakan mahasiswa yang mempunyai paradigma baru seperti di atas. Sebab, di saat para politisi sibuk berkampanye diri, para tokoh bangsa berlomba-lomba menjadi calon presiden, banyak aparat keamanan menjadi beking judi, para agamawan sibuk berdebat tafsir kebenaran, serta para LSM giat mencari proyek pemberdayaan rakyat, pers dan media massa tidak jarang yang jadi ajang iklan politik, maka gerakan mahasiswa adalah aset bangsa yang patut untuk dijaga Terlebih lagi, perjalanan reformasi yang berjalan terseok-seok ini, bisa menyebabkan rakyat frustasi dan rindu akan masa lalu. Jika itu terjadi, ibaratnya kita keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya, dan tercebur lagi ke mulut singa. Tentu saja, masa depan bangsa ini harus diselamatkan dengan kebersihan hati nurani, progresivitas gerakan, dan pemotongan aktor-aktor masa lalu yang ingin berkuasa lagi tapi terbukti culas dan menipu rakyat.
Terakhir, basis intelektualisme pada diri aktivis gerakan mahasiswa, adalah sebuah keharusan yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Dengan intelektualisme ini, maka pengajuan analisis dan konsep alternatif untuk rekonstruksi Indonesia ini akan mudah dilakukan. Selain itu, kejayaan para pejuang dan negarawan Indonesia zaman kemerdekaan yang sanggup menggabungkan kualitas intelektualisme dan aktivisme dapat kembali terulang menjadi kenyataan. Sosok-sosok seperti inilah, yang sebetulnya relatif bisa dipercaya memimpin dan mengatur Indonesia ke depan. Tentu saja, kualitas moral dan spiritual adalah sebuah pencapaian diri yang juga harus diupayakan terus-menerus.
“SUARA MAHASISWA (SURAM)”
BPM BEM UKM MAPALA BERSATU UNTUK STIA AL
GAZALI BARRU
“Jangan sampai anda
hidup dalam kematian’
STIA AL GAZALI BARRU
"FATA"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar